Langsung ke konten utama

Lining Super Force 84, Raket Rp 300 Ribuan yang Nggak Pernah Saya Sesali Pembeliannya

Sebagai orang yang nggak begitu kuat untuk lari 2x45 menit, badminton merupakan salah satu alternatif sebagai hobi untuk cari keringat. Dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya itu sudah suka main badminton sejak jaman dulu SD, namun karena waktu SMP dan SMA saya tinggal di pesantren, dan ternyata di sana juga nggak ada fasilitas GOR untuk main tamplekan, ya, alhasil selama kurang lebih enam tahun tersebut saya nggak pernah lagi pegang raket.

Kemudian saat masuk ke jenjang kuliah, saya menjumpai banyak dari teman-teman yang ternyata memiliki hobi main badminton, mereka ada yang terikat dengan ormawa, PB atau cuman sekadar hobi saja. Lalu diajak lah saya untuk main beberapa kali dengan raket pinjaman. Lama kelamaan karena seringnya ikut main, badminton seakan sudah menjadi rutinitas. Tentu terasa sungkan jika tiap main kok hanya pinjam raket, akhirnya saya putuskan untuk beli.

Uniknya, waktu berada di toko olahraga, saya sempat bingung pas ditanya mau beli raket yang model gimana. Pasalnya waktu itu saya memang nggak begitu ngerti jenis-jenis raket dan raket apa yang cocok buat saya. Saya cuman mematok harga kisaran Rp 300 ribuan serta yang nyaman buat smash, betul, saya memang tipe pemain belakang saat main ganda, jadi saya kira saya akan sering melakukan smash daripada nyerobot shuttlecock di depan net.

Tanpa banyak basa basi saya langsung disodori raket Lining Super Force 84 dan saat itu juga saya langsung kepincut tanpa menanyakan raket pembanding lainnya dengan kisaran harga yang sama. Jujur, selama kurang lebih tiga tahun memakai raket ini, saya nggak pernah merasakan yang namanya penyesalan.

Ragangannya kuat

Kalau kita bicara perihal spesifikasi, raket Lining dengan tipe super force 84 ini memiliki berat 84 gram, berbahan dari full carbon, panjang 672 mm, balance 290 mm, tensinya bisa sampai 30 lbs dan ukuran gripnya 4U-G3. Menurut saya, raket dengan spesifikasi seperti ini tentu sangat worth it jika dijual dengan harga Rp 300 ribuan. Oh iya, dulu saya cuman beli rangka raketnya saja ya, tidak dengan tas atau segala macamnya. Sebab bila beli satu paketnya sekalian, harganya bisa sampai Rp 400-500 ribuan. Jadi lumayan mahal.

Selama tiga tahun menemani saya dalam mencari keringat di GOR, raket ini bisa dikatakan sangat awet. Pasalnya, beberapa kali raket ini pernah berbenturan dengan raket teman main saya, namun ternyata dari rangka raketnya masih aman-aman saja, paling parah mungkin cuma lecet dan di beberapa titik warna catnya terkelupas.

Dan harus diketahui juga, raket ini sering dipinjam cewek-cewek untuk main badminton. Kebayang kan bagaimana mereka saat main. Serve bukan kena shuttlecocknya tapi malah kena lantai, mau niat smash malah shuttlecocknya kelewat. Yang paling parah, raket ini pernah terbang gara-gara si cewek peminjam tadi panik saat mau defend, tapi seakan punya ilmu kebal, raket ini masih aman-aman saja.

Nyaman untuk smash

Kalau boleh mengatakan, raket Lining Super Force 84 ini adalah raket spesialis pemain yang punya power besar, apalagi jika pemain tersebut terbiasa menumpahkan powernya pada smash-smash kenceng. Ya, bagaimanapun raket dengan tipikal berat kayak gini memang nyaman buat smash sih, tapi biasanya agak lemah di defend nya.

Sebagai pemain belakang, saya cukup nyaman menggunakan raket buatan Cina ini. Namun perlu diingat, kalau kita menggunakan raket ini memang kudu pintar-pintar ngatur tempo permainan, agak lumayan kesusahan kalau dipaksa main cepat untuk adu drive. Tapi kalau temponya pas dan ketemu timing smash yang akurat, pemain yang menggunakan raket ini smash nya bakalan kenceng banget tuh. Yakin.

Pernah mengantarkan juara 1 lomba badminton

Satu hal lagi yang nggak pernah bikin saya nyesel buat beli raket Lining Super Force 84 adalah raket ini pernah mengantarkan saya juara 1 lomba badminton. Sepertinya ini merupakan kisah yang paling memorable sih, sebab hanya bermodalkan raket Rp 300 ribuan dan sepatu badminton hasil minjam teman malah bisa jadi juara.

Meski perlombaannya hanya setingkat instansi dan pesertanya kebanyakan juga para mahasiswa sendiri. Namun perjuangannya itu bagi saya yang patut dibanggakan. Waktu itu saya main ganda putra dengan salah satu teman, namun partai kerasnya malah ketemu di semifinal, yakni antara pasangan saya melawan pemain unggulan. Saya sempat tegang namun akhirnya kami berhasil menang. Kemudian di partai final, kami tuntaskan dengan kemenangan sempurna dua set tanpa balas.

Ya begitulah, meski harganya cuman Rp 300 ribuan, saya meyakini bahwa raket Lining Super Force 84 bukanlah barang yang ecek-ecek. Selain awet dan enak waktu dibuat main, pernah mengantarkan si pemainnya juara lomba badminton itu kan sesuatu yang istimewa, mosok kayak gitu bisa disebut barang ecek-ecek? Ya, makanya saya nggak pernah nyesal waktu beli raket tipe ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Kata Abah

(Sumber: Harian Merapi) Tahun telah berganti namun pandemi virus COVID-19 masih saja menghantui kita saban hari. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya dengan melakukan upaya preventif demi menghindari risiko terinfeksi virus COVID-19 yakni dengan memakai masker, cuci tangan dan juga menjaga jarak. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Di antaranya yaitu puluhan ribu karyawan di PHK, dirubahnya sistem pembelajaran yang mulanya tatap muka menjadi tatap layar, dibatasinya jadwal malam minggu (walaupun ini juga kabar gembira bagi para jomblo) dan masih banyak yang lainnya. Salwa adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkena dampak tersebut. Ia saat ini masih nyantri di Ponpes al Muttaqin asuhan Abah Zulfani el-Andrians. Abah Zulfani menerapkan aturan ketat di pondoknya, bahkan beliau sangat melarang apabila ada santri yang ingin izin pulang ke kampung halaman mereka sebab beliau tidak ingin apabila ada santrinya yang tertular virus. Salwa termasuk santr...

3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Menjadi Sarjana Tafsir

  Bertemu dengan orang-orang yang ‘awam’ pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sering membuat saya dilema, mereka selalu memiliki ekspektasi yang tinggi, padahal kami tidak sesubhanallah seperti yang mereka bayangkan. Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (baca : IAT) adalah salah satu jurusan di fakultas Ushuluddin di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN). Para alumninya sering disebut dengan nomenklatur sarjana Tafsir dengan gelar s1 nya adalah S. Ag. Di UIN walisongo Semarang, jurusan ini mempunyai visi untuk unggul dalam riset ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis dengan pendekatan multidisipliner untuk kemanusiaan dan peradaban di Indonesia pada tahun 2023. Sebagai sarjana Tafsir, dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan orang-orang yang latar belakang pendidikannya sangat beragam. Tentu, sangat sedikit dari mereka yang kenal dengan jurusan ini, bahkan beberapa ada yang kaget sebab baru tahu kalau ada jurusan IAT. Tak jarang dengan kepenasarannya, mereka langsung menimpali. Itu ...

Ketika Menolong Malah Membuatku Menyesal

(Sumber: Quora) Kemarin pagi, saat cahaya matahari masih tampak remang-remang, sehabis salat subuh, saya memutuskan untuk kembali mengistirahatkan badan. Saya kurang tahu, entah kenapa akhir-akhir ini badan terasa begitu capek, mata menjadi lumayan berat dan kepala sedikit pening. Pasnya lagi waktu itu adalah hari libur, maka tidur adalah pilihan yang tepat menurut saya. Kemudian sekitar pukul setengah sembilanan, teman saya mengetuk pintu kamar dengan amat keras, ia tampak panik, muka memerah dan kecut. Ia merengek meminta tolong, raut mukanya sangat mirip dengan Fajar Sadboy ketika membuat kata-kata bijak, namun tidak ditambahi uk uk uk uk uk uuukkkk, tentu ini menjadi sebuah pemandangan yang memuakkan. Dengan keadaan panik, ia bercerita, singkat dan amburadul. Akhirnya ditemukanlah akar permasalahan, usut punya usut ternyata pada jam tersebut ia harus melakukan real test Toefl, namun ia tidak memiliki laptop dan ia meminta untuk dipinjamkan laptop. Tiba-tiba saya langsung refleks, b...