Langsung ke konten utama

3 Perbedaan Si Kembar Upin dan Ipin

(Sumber: Upin Ipin Fandom)

Siapa yang nggak kenal si kembar Upin dan Ipin? Penonton setia serial kartun asal Malaysia pasti sudah nggak asing lagi dengan nama tersebut. Sebagaimana jamak diketahui, Upin dan Ipin merupakan tokoh utama dalam serial kartun yang berjudul Upin dan Ipin, yakni kartun yang diproduksi oleh Les’ Copaque Production yang saat ini menjadi kartun paling favorit di MNCTV.

Rilis pada tanggal 14 September 2007 yang lalu, hingga saat ini, kartun yang dibuat oleh H. Burhanuddin Radzi dkk ini telah mendapatkan beragam penghargaan. Di antaranya berhasil meraih kategori animasi terbaik dalam Festival Film Internasional di Kuala Lumpur, kategori best on-screen chemistry dalam Penghargaan Shout hingga menjadi serial animasi kesayangan dalam acara Mom and Kids Awards tahun 2021 yang lalu.

Menterengnya beragam penghargaan yang pernah diraih membuat saya yakin bahwa serial kartun yang berlatar utama di Kampung Durian Runtuh ini memang menjadi kartun asal Malaysia yang paling sukses. Sehingga aneh, anak jaman sekarang kok nggak kenal dengan si kembar yang comel Upin dan Ipin. Terus tontonan mereka apa?

Namun ya begitulah. Meski mereka mengenal, terkadang masih saja mereka kesusahan untuk membedakan mana yang Upin dan mana yang Ipin. Bahkan adik saya yang setiap hari selalu stand by didepan TV dan nonton kisah para budak yang comel itu, ternyata masih saja gagap ketika ditanya mana yang Upin dan mana yang Ipin.   

Untuk itu, lewat tulisan ini, saya ingin sedikit membeberkan setidaknya tiga perbedaan si kembar Upin dan Ipin supaya nantinya kita nggak kagok lagi ketika ada yang nanya mana sih yang Upin dan mana sih yang Ipin. Oleh karena itu, langsung saja tanpa banyak basa-basi lagi, berikut perbedaannya.

Dari segi fisik

Walaupun Upin dan Ipin merupakan anak kembar yang sama-sama berkepala botak. Namun keduanya dapat dibedakan dengan satu hal yang sedikit mencolok. Di antaranya jika kita lihat dengan seksama, Upin itu meski ia botak, namun ia masih memiliki sehelai rambut yang berbentuk spiral di kepalanya, tapi kalau Ipin, ia lebih cenderung pada bocin atau botak licin, yakni masih kinclong dan sama sekali belum ditumbuhi rambut.

Akan lebih jelas lagi kalau kita menonton episode Upin dan Ipin tumbuh rambut. Episode yang tayang pada tahun 2021 itu memperlihatkan betapa jelasnya perbedaan Upin dan Ipin. Yakni saat rambut mereka lebat, model rambut Upin lebih cenderung kribo, namun kalau Ipin lebih cenderung lurus dan rapi, kayaknya malah hampir mirip model rambut Fizi.

Dari segi pakaian yang dikenakan

Perbedaan yang paling mencolok antara Upin dan Ipin selain dari sehelai rambutnya adalah dalam hal pakaian yang dikenakan. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat bermain, Upin sering memakai singlet kuning yang tertera huruf “U” di bagian depan singletnya. Namun kalau Ipin, ia sering memakai singlet berwarna biru dan kain merah yang diikatkan di lehernya yang kemudian menjadi trademark karakter Ipin.

Selain itu, jika keduanya pergi ke musholla. Pada musim kedua hingga keempat, Upin sering memakai baju melayu berwarna putih dan berkopiah, namun mulai musim kelima, Upin berganti penampilan dengan sering memakai baju melayu berwarna kuning dan memakai kopiah di mana sehelai rambutnya yang spiral tetap tembus.

Berbeda dengan kakaknya, Ipin pada musim kedua hingga keempat saat ke musholla sering memakai baju melayu berwarna merah dan berkopiah, sementara mulai musim kelima, anak bungsu di keluarga Upin dan Ipin tersebut memakai baju melayu berwarna biru dengan masih memakai kopiah yang sama. 

Kemudian saat menjadi detektif, Upin masih memakai pakaian dengan warna dasar seperti yang ia kenakan sehari-hari, yakni kuning. Cuma, ia memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan dasi berwarna biru, namun tetap dengan jas dan topi berwarna kuning. Selanjutnya ia memakai celana panjang berwarna cokelat dan sepatu hitam.

Tentu berbeda dengan Upin, Ipin memakai pakaian dengan warna dasar kesukaannya, yakni biru. Jas dan topi yang ia kenakan di antaranya berwarna biru, namun dasinya berwarna kuning (berlawanan dengan warna yang dipakai Upin). Sementara itu, antara celana, kemeja dan sepatu, ia memakainya persis seperti yang dikenakan oleh Upin.

Dari segi sifat atau karakter

Untuk melihat perbedaan Upin dan Ipin dari segi sifat atau karakternya itu susah-susah gampang. Perbedaan yang paling mencolok ya ketika salah satunya mengatakan sautan khasnya, yakni “betul, betul, betul”. Kita akan segera tahu bahwa yang mengatakan hal tersebut adalah Ipin, dan yang satunya diam adalah Upin.

Namun kalau kita lebih jeli, sebenarnya mungkin karena Upin diposisikan sebagai kakak dari Ipin. Jadi sifat Upin itu lebih dewasa ketimbang Ipin. Hal ini terlihat misalnya dalam episode kain merah Ipin. Ipin yang saat itu galaunya minta ampun sebab kainnya hilang kemudian ditenangkan oleh Upin sehingga mereka mencari kain merah tersebut bersama-sama.

Jadi, itulah di antara tiga perbedaan si kembar Upin dan Ipin. Sebagaimana yang kita tahu, di dunia ini nggak ada yang seratus persen kembar, pasti di antara yang kembar keduanya tetap memiliki perbedaan, termasuk si kembar yang memiliki nama asli Aruffin bin Abdul Salam dan Ariffin bin Abdul Salam tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Kata Abah

(Sumber: Harian Merapi) Tahun telah berganti namun pandemi virus COVID-19 masih saja menghantui kita saban hari. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya dengan melakukan upaya preventif demi menghindari risiko terinfeksi virus COVID-19 yakni dengan memakai masker, cuci tangan dan juga menjaga jarak. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Di antaranya yaitu puluhan ribu karyawan di PHK, dirubahnya sistem pembelajaran yang mulanya tatap muka menjadi tatap layar, dibatasinya jadwal malam minggu (walaupun ini juga kabar gembira bagi para jomblo) dan masih banyak yang lainnya. Salwa adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkena dampak tersebut. Ia saat ini masih nyantri di Ponpes al Muttaqin asuhan Abah Zulfani el-Andrians. Abah Zulfani menerapkan aturan ketat di pondoknya, bahkan beliau sangat melarang apabila ada santri yang ingin izin pulang ke kampung halaman mereka sebab beliau tidak ingin apabila ada santrinya yang tertular virus. Salwa termasuk santr...

3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Menjadi Sarjana Tafsir

  Bertemu dengan orang-orang yang ‘awam’ pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sering membuat saya dilema, mereka selalu memiliki ekspektasi yang tinggi, padahal kami tidak sesubhanallah seperti yang mereka bayangkan. Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (baca : IAT) adalah salah satu jurusan di fakultas Ushuluddin di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN). Para alumninya sering disebut dengan nomenklatur sarjana Tafsir dengan gelar s1 nya adalah S. Ag. Di UIN walisongo Semarang, jurusan ini mempunyai visi untuk unggul dalam riset ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis dengan pendekatan multidisipliner untuk kemanusiaan dan peradaban di Indonesia pada tahun 2023. Sebagai sarjana Tafsir, dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan orang-orang yang latar belakang pendidikannya sangat beragam. Tentu, sangat sedikit dari mereka yang kenal dengan jurusan ini, bahkan beberapa ada yang kaget sebab baru tahu kalau ada jurusan IAT. Tak jarang dengan kepenasarannya, mereka langsung menimpali. Itu ...

Ketika Menolong Malah Membuatku Menyesal

(Sumber: Quora) Kemarin pagi, saat cahaya matahari masih tampak remang-remang, sehabis salat subuh, saya memutuskan untuk kembali mengistirahatkan badan. Saya kurang tahu, entah kenapa akhir-akhir ini badan terasa begitu capek, mata menjadi lumayan berat dan kepala sedikit pening. Pasnya lagi waktu itu adalah hari libur, maka tidur adalah pilihan yang tepat menurut saya. Kemudian sekitar pukul setengah sembilanan, teman saya mengetuk pintu kamar dengan amat keras, ia tampak panik, muka memerah dan kecut. Ia merengek meminta tolong, raut mukanya sangat mirip dengan Fajar Sadboy ketika membuat kata-kata bijak, namun tidak ditambahi uk uk uk uk uk uuukkkk, tentu ini menjadi sebuah pemandangan yang memuakkan. Dengan keadaan panik, ia bercerita, singkat dan amburadul. Akhirnya ditemukanlah akar permasalahan, usut punya usut ternyata pada jam tersebut ia harus melakukan real test Toefl, namun ia tidak memiliki laptop dan ia meminta untuk dipinjamkan laptop. Tiba-tiba saya langsung refleks, b...