Langsung ke konten utama

Ketika Menolong Malah Membuatku Menyesal

(Sumber: Quora)

Kemarin pagi, saat cahaya matahari masih tampak remang-remang, sehabis salat subuh, saya memutuskan untuk kembali mengistirahatkan badan. Saya kurang tahu, entah kenapa akhir-akhir ini badan terasa begitu capek, mata menjadi lumayan berat dan kepala sedikit pening. Pasnya lagi waktu itu adalah hari libur, maka tidur adalah pilihan yang tepat menurut saya.

Kemudian sekitar pukul setengah sembilanan, teman saya mengetuk pintu kamar dengan amat keras, ia tampak panik, muka memerah dan kecut. Ia merengek meminta tolong, raut mukanya sangat mirip dengan Fajar Sadboy ketika membuat kata-kata bijak, namun tidak ditambahi uk uk uk uk uk uuukkkk, tentu ini menjadi sebuah pemandangan yang memuakkan.

Dengan keadaan panik, ia bercerita, singkat dan amburadul. Akhirnya ditemukanlah akar permasalahan, usut punya usut ternyata pada jam tersebut ia harus melakukan real test Toefl, namun ia tidak memiliki laptop dan ia meminta untuk dipinjamkan laptop.

Tiba-tiba saya langsung refleks, berdiri dan segera membantu bahkan tanpa terbesit untuk sekadar cuci muka sekalipun. Kami berpikir sejenak untuk kemudian mengambil langkah cepat.

Karena pada dasarnya saya juga tidak memiliki laptop, akhirnya saya menelpon beberapa teman agar mereka bisa meminjamkan benda tersebut, didapatkanlah ada seorang teman yang memilikinya dan kebetulan sedang tidak dipakai, tanpa banyak cincong kami langsung gass ke kosannya.

Kemudian dalam perjanjian peminjamannya, laptop akan dikembalikan pada siang hari, sebab si pemilik laptop akan menggunakannya untuk sebuah hal. Kami langsung menyetujuinya karena memang itulah jalan satu-satunya agar laptop bisa dipinjamkan, sama sekali tak ada proses tawar-menawar antara kami.

Setelah itu, kami bergegas kembali ke kos, saya membantu menyiapkan beberapa peralatan sebelum ujian dimulai. Saat semuanya beres, telah masuk Zoom dan akan melakukan ujian, sialnya, email yang ia gunakan untuk log in ke soal malah mengalami gangguan, sama sekali tidak ada respon ketika ia menekan enter untuk masuk pada kolom soal.

Keadaan menjadi panik, kacau, bahkan teman saya memelas, 'Ah, hangus sudah lima ratus ribuku ini'. Namun ia tak kehabisan akal, sebab lembaga yang memfasilitasi real test Toefl tersebut dekat dengan kos-kosan, ia langsung memutuskan untuk pergi kesana dan ingin tes offline disana, membawa laptop tersebut dan tetap dalam keadaan panik.

Selanjutnya kami terpisah, dia yang tetap dalam keadaan panik pergi menuju lembaga tersebut dan saya kembali ke kamar. Tak ada salam perpisahan yang spesial antara kami berdua, kami berpisah begitu saja.

Setelah kejadian itu, saya menjalani hari seperti biasanya, mandi, sarapan, berjalan kaki, naik turun tangga, scroll-scroll instagram dan sebagainya. Namun, kenyamanan ini runtuh ketika teman saya, tepatnya si pemilik laptop menelpon saya dan memberi tahu bahwa laptopnya belum dikembalikan. 

Agak kaget mendengar ia mengatakan hal tersebut, pasalnya, saya kira laptop sudah dikembalikan, sebab ujian real test Toefl tidak mungkin berjalan sedari pagi hingga petang. Toefl itu kemungkinan hanya berjalan sekitar dua jam.

Saya menelpon teman yang meminjam laptop, namun tidak berdering, menelpon teman yang dikosannya dulu, ditemukan, Sore dia berada disana, membawa laptop, tapi tidak langsung dikembalikan. Saya geram pada hal itu, kenapa laptop tidak langsung dikembalikan.

Kebingungan terlalu lama menyelimuti saya, marah, emosi dan kesal. Ini keteledoran yang mutlak. Saya merasa malu pada teman yang telah berbaik hati meminjamkan laptop, namun malah dibalas keteledoran. Bagaimana bisa orang yang memiliki laptop namun malah harus mencari pinjaman laptop lain untuk mengerjakan tugasnya?

Malam sekitar jam sepuluh lebih, teman yang meminjam laptop menelepon saya. Selanjutnya, ia memberikan laptop tersebut pada saya. Alasan kenapa dia hanya centang satu dan tidak menjawab telpon adalah laptop dan HP tertinggal di kamar, saya harus buru-buru pergi untuk beribadah.

Akhirnya saya hanya berpesan, Jika telah ada seseorang yang berbaik hati padamu, mau menolongmu, jangan sampai kamu balas dengan kekecewaan, tentu kasihan pada orang yang telah meminjamkan laptop padamu, masak harus susah payah mencari laptop lain untuk mengerjakan tugasnya?

Komentar

  1. Intinya sabar itu salah satu diantara jalan untuk sukses

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Kata Abah

(Sumber: Harian Merapi) Tahun telah berganti namun pandemi virus COVID-19 masih saja menghantui kita saban hari. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya dengan melakukan upaya preventif demi menghindari risiko terinfeksi virus COVID-19 yakni dengan memakai masker, cuci tangan dan juga menjaga jarak. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Di antaranya yaitu puluhan ribu karyawan di PHK, dirubahnya sistem pembelajaran yang mulanya tatap muka menjadi tatap layar, dibatasinya jadwal malam minggu (walaupun ini juga kabar gembira bagi para jomblo) dan masih banyak yang lainnya. Salwa adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkena dampak tersebut. Ia saat ini masih nyantri di Ponpes al Muttaqin asuhan Abah Zulfani el-Andrians. Abah Zulfani menerapkan aturan ketat di pondoknya, bahkan beliau sangat melarang apabila ada santri yang ingin izin pulang ke kampung halaman mereka sebab beliau tidak ingin apabila ada santrinya yang tertular virus. Salwa termasuk santr...

3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Menjadi Sarjana Tafsir

  Bertemu dengan orang-orang yang ‘awam’ pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sering membuat saya dilema, mereka selalu memiliki ekspektasi yang tinggi, padahal kami tidak sesubhanallah seperti yang mereka bayangkan. Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (baca : IAT) adalah salah satu jurusan di fakultas Ushuluddin di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN). Para alumninya sering disebut dengan nomenklatur sarjana Tafsir dengan gelar s1 nya adalah S. Ag. Di UIN walisongo Semarang, jurusan ini mempunyai visi untuk unggul dalam riset ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis dengan pendekatan multidisipliner untuk kemanusiaan dan peradaban di Indonesia pada tahun 2023. Sebagai sarjana Tafsir, dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan orang-orang yang latar belakang pendidikannya sangat beragam. Tentu, sangat sedikit dari mereka yang kenal dengan jurusan ini, bahkan beberapa ada yang kaget sebab baru tahu kalau ada jurusan IAT. Tak jarang dengan kepenasarannya, mereka langsung menimpali. Itu ...