Langsung ke konten utama

3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Menjadi Sarjana Tafsir

 


Bertemu dengan orang-orang yang ‘awam’ pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sering membuat saya dilema, mereka selalu memiliki ekspektasi yang tinggi, padahal kami tidak sesubhanallah seperti yang mereka bayangkan.

Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (baca : IAT) adalah salah satu jurusan di fakultas Ushuluddin di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN). Para alumninya sering disebut dengan nomenklatur sarjana Tafsir dengan gelar s1 nya adalah S. Ag. Di UIN walisongo Semarang, jurusan ini mempunyai visi untuk unggul dalam riset ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis dengan pendekatan multidisipliner untuk kemanusiaan dan peradaban di Indonesia pada tahun 2023.

Sebagai sarjana Tafsir, dalam beberapa kesempatan, saya sering bertemu dengan orang-orang yang latar belakang pendidikannya sangat beragam. Tentu, sangat sedikit dari mereka yang kenal dengan jurusan ini, bahkan beberapa ada yang kaget sebab baru tahu kalau ada jurusan IAT. Tak jarang dengan kepenasarannya, mereka langsung menimpali. Itu prospek kerjanya nanti jadi apa?  Ya saya jawab sedapatnya, ini adalah jurusan yang prospek kerjanya paling luas, ada yang di kemenag, guru, penulis, pebisnis dan sebagainya. Jadi, kita bisa masuk pada bidang apapun.

Terkadang, rasa penasaran mereka malah menimbulkan bola liar, mereka langsung memikirkan hal-hal diluar ekspektasi ketika pertama kali mendengar jurusan IAT, tentu ini terlalu beban, sebab kami tidak se-alim yang mereka pikirkan. Maka, pandangan-pandangan yang keliru itu harus diluruskan. Dan beberapa pandangan butuh dikoreksi itu diantaranya adalah;

Sarjana Tafsir Dianggap Bisa Menafsirkan Segala Hal

Salah satu anggapan yang keliru adalah jika sarjana Tafsir dipandang bisa menafsirkan segala hal. Sebab saat berada diperkuliahan, ruang lingkup pembelajaran kami hanya berkutat pada penafsiran al-Qur’an. Misalnya pemetaan studi kitab tafsir klasik dan modern, belajar perihal kaidah tafsir yang mencakup seperti wujuh wa an-nazair, majaz, muhkam mutasyabih, ta’wil dan sebagainya, ataupun hingga mempelajari pemikiran para mufasir. Jadi, sarjana Tafsir dalam hal ini adalah Tafsir Ilmu Al-Qur’an ya guys.

Mengapa harus diluruskan seperti ini? Sebab dulu ada seseorang yang salah tangkap mengenai istilah sarjana Tafsir. Mereka menganggap jika sarjana Tafsir adalah seorang sarjana yang ahli dalam menafsirkan segala aspek termasuk perihal mimpi, ini kan keliru. Lebih parah lagi, ada seorang teman yang bertanya tafsir kata ‘terserah’ saat ia bernegosiasi dengan kekasihnya ketika hendak makan dimana, tentu yang ini lebih kacau.  

Sarjana Tafsir Diyakini Hafal 30 Juz Al-Qur’an

Jika ada sarjana Tafsir yang hafal Al-Qur’an 30 Juz, pada dasarnya itu adalah murni dari dirinya sendiri. Mengapa demikian? Sebab dikampus kami, UIN Walisongo, hafalan yang wajib bagi mahasiswa tafsir dibagi menjadi dua kelas yakni program khusus (PK) dan regular. Untuk PK, maka diwajibkan hafalan al-Qur’an 4 juz dan 100 hadis beserta rawinya, sementara untuk regular, hanya diwajibkan hafalan 1 juz dan 40 hadis plus rawinya.

Jadi, tidak semua sarjana Tafsir memiliki gelar hafidzul qur’an atau hamilul qur’an. Biasanya, sarjana Tafsir yang memiliki hafalan 30 juz adalah mahasiswa yang sebelumnya telah memiliki hafalan ataupun mahasiswa yang sedang mengikuti program hafalan.

Sarjana Tafsir Dipandang Paham Seluruh Isi Al-Qur’an

Hal yang paling berat ketika menyandang predikat sarjana Tafsir ialah ketika telah dianggap bahwa seorang sarjana Tafsir pasti paham seluruh isi al-Qur’an. Bahkan yang lebih berat lagi, mereka tiba-tiba menyandingkan dengan nama-nama seperti Prof. Quraish Shihab, Hamka bahkan Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy. Padahal secara keilmuan, perbedaan antara kami dan beliau-beliau adalah antara langit dan bumi atau dalam istilah kami adalah baina sama’ wa sumur bur. Maka, pandangan dan penyandingan itu memang sangat keliru.  

Seperti yang kita ketahui bersama, tugas akhir dari mahasiswa sarjana adalah membuat skripsi. Selaras dengan hal itu, untuk mencapai kelulusan, mahasiwa IAT hanya ditugaskan membuat sebuah skripsi yang memiliki keterikatan dengan materi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, jadi tidak kemudian harus bisa menafsirkan seluruh isi al-Qur’an untuk bisa lulus.

Harus juga dipahami bersama, antara mufasir dan sarjana Tafsir itu berbeda. Mufasir adalah seseorang yang ahli dalam bidang tafsir yang menguasai beberapa peringkat berupa Ulumul Qur’an dan memenuhi syarat-syarat mufasir. Ada pula yang mengatakan, bisa disebut mufasir jika ia telah memiliki karya kitab tafsir, misalnya dalam lingkup Indonesia ada Prof. Quraish Shihab dengan Tafsir Al-Misbahnya, Kyai Sholeh Darat dengan Tafsir Faidlurrahmannya ataupun Kyai Bisri Musthofa dengan Al-Ibriznya dll. Adapun sarjana Tafsir hanyalah sebatas seseorang yang kuliah di jurusan Tafsir dan memiliki karya skripsi tentang tafsir. Jadi, jauh berbeda.

Meskipun begitu, sebagai pemangku gelar sarjana Tafsir, walaupun gelar ini juga saya kira kurang pantas, kami tahu diri, kami akan senantiasa terus mempelajari isi dari al-Qur’an. Sebab seperti yang Rasul katakan ‘Sebaik-baik dari kalian adalah seseorang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya’.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Kata Abah

(Sumber: Harian Merapi) Tahun telah berganti namun pandemi virus COVID-19 masih saja menghantui kita saban hari. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya dengan melakukan upaya preventif demi menghindari risiko terinfeksi virus COVID-19 yakni dengan memakai masker, cuci tangan dan juga menjaga jarak. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Di antaranya yaitu puluhan ribu karyawan di PHK, dirubahnya sistem pembelajaran yang mulanya tatap muka menjadi tatap layar, dibatasinya jadwal malam minggu (walaupun ini juga kabar gembira bagi para jomblo) dan masih banyak yang lainnya. Salwa adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkena dampak tersebut. Ia saat ini masih nyantri di Ponpes al Muttaqin asuhan Abah Zulfani el-Andrians. Abah Zulfani menerapkan aturan ketat di pondoknya, bahkan beliau sangat melarang apabila ada santri yang ingin izin pulang ke kampung halaman mereka sebab beliau tidak ingin apabila ada santrinya yang tertular virus. Salwa termasuk santr...

Ketika Menolong Malah Membuatku Menyesal

(Sumber: Quora) Kemarin pagi, saat cahaya matahari masih tampak remang-remang, sehabis salat subuh, saya memutuskan untuk kembali mengistirahatkan badan. Saya kurang tahu, entah kenapa akhir-akhir ini badan terasa begitu capek, mata menjadi lumayan berat dan kepala sedikit pening. Pasnya lagi waktu itu adalah hari libur, maka tidur adalah pilihan yang tepat menurut saya. Kemudian sekitar pukul setengah sembilanan, teman saya mengetuk pintu kamar dengan amat keras, ia tampak panik, muka memerah dan kecut. Ia merengek meminta tolong, raut mukanya sangat mirip dengan Fajar Sadboy ketika membuat kata-kata bijak, namun tidak ditambahi uk uk uk uk uk uuukkkk, tentu ini menjadi sebuah pemandangan yang memuakkan. Dengan keadaan panik, ia bercerita, singkat dan amburadul. Akhirnya ditemukanlah akar permasalahan, usut punya usut ternyata pada jam tersebut ia harus melakukan real test Toefl, namun ia tidak memiliki laptop dan ia meminta untuk dipinjamkan laptop. Tiba-tiba saya langsung refleks, b...